Tinggal di
sebuah desa bernama Tridayasakti, Kabupaten Bekasi yang masih asri ini tempat saya dibesarkan. Kami hidup
dengan kesederhanaan dan kemandirian, ayah saya seorang wiraswasta kecil dengan
produk minuman herbal yang memiliki jiwa wirausaha tinggi dan ibu yang tak kenal lelah mengajar membaca Alquran
untuk anak-anak. Sejak kecil saya sudah merantau menuntut ilmu di Banten
saat SMP dan SMA, dengan kemandirian serta didikan kedua orangtua membawa
harapan besar untuk saya menjadi orang yang mampu berkontribusi bagi keluarga
dan Indonesia. Sekarang saya bersyukur menjadi salah satu di antara bocah desa
yang mampu menempuh pendidikan sarjana di Universitas Negeri Jakarta, dan terus
melangkah mewujudkan impian. Impian saya adalah menjadi seorang Peneliti muda
berjiwa wirausaha.
Saya mengikuti berbagai
organisasi sejak Sekolah Menengah Atas hingga saat ini di kampus, yaitu
Pramuka, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Prodi Biologi, Kelompok Pengamat
Burung (KPB) Nictycorax, dan Masjid Ulul Albab. Berbagai peran saya
ikuti demi mengasah kemampuan dalam kepemimpinan
dan keputusan solutif untuk mampu berkontribusi nyata dalam menangani tiap
aspek permasalahan di Indonesia.
Salah satu prestasi
yang saya raih adalah saat menjadi delegasi sekolah dalam lomba simulasi sidang
ASEAN se-Banten 2015. Lomba ini memperilhatkan bagaimana kerjasama antar Negara-negara
ASEAN dalam Politik, pendidikan, sosial, keamanan dan terutama bidang ekonomi. Lomba
ini terdiri dari tiga fase, yaitu pemaparan visi masing-masing negara, Lobi
kerjasama, dan kesepakatan (MOU) hubungan kerjasama. Disini saya dan tim dapat
mengenal apa kerjasama yang ditawarkan Indonesia di mata ASEAN, dan betapa
peran strategis Indonesia di kancah Asia Tenggara dalam menghadapi Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA) 2016.
Setelah selesai
mengikuti lomba simulasi sidang ASEAN, saya berusaha melakukan berbagai kontribusi
untuk Indonesia. Di tahun 2017, saat ini saya menjadi tim ahli Program
Kreativitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta di Prodi Biologi, dan juga masih menyusun
proposal PKM terkait usaha pengembangan minuman herbal temulawak, temumangga,
alang-alang dan jahe hasil industri rumah tangga sendiri, serta ikut dalam kelompok PKM pengabdian masyarakat pesisir
Marunda dengan judul ”Literasi Pesisir Alam Jakartaku Lestari Ekosistemku”
bersama kakak kelas. Program kreativitas ini menempatkan saya untuk
terus mendorong jiwa kelimiahan dan kewirausahaan tiap mahasiswa melalui pengalaman-pengalaman yang
saya dapatkan.
Tahun 2025 Visi
iptek diharapkan dapat mendorong pembangunan iptek nasional, menciptakan
kesejahteraan dan berdaya saing dengan negara-negara lain.. Namun jumlah
peneliti di Indonesia sangat minim dengan hanya 90 peneliti per satu juta penduduk,
juga dengan belanja nasional untuk kegiatan penelitian dan pengembangan iptek
baru 0,09 persen, bahkan institusi riset Indonesia dapat dihitung jari.
Dalam hal
pengembangan iptek, jumlah peneliti Negara Brasil mencapai 700 orang per 1 juta
penduduk. Rusia 3000 peneliti per 1 juta penduduk, India 160 peneliti per 1
juta penduduk, Korea 5900 peneliti per 1 juta penduduk dan Tiongkok 1020
peneliti per 1 juta penduduk (sumber: Kompas.com). Belum lagi belanja pengembangan
iptek dan intitusi riset yang banyak.
Bila saya
mendapat kesempatan beasiswa ini, saya ingin mengambil peran sebagai seorang
peneliti yang produktif dengan mampu meningkatkan kualitas kelimiahan peneliti
muda Indonesia dan mampu berwirausaha membangun lapangan kerja yang sehat di
masyarakat, serta berkomitmen untuk melanjutkan studi pascasarjana. Saya berharap
dengan banyaknya peneliti muda yang juga seorang entrepeneur akan menjadikan
generasi kita mandiri di negeri sendiri, berwawasan global dan memiliki daya
saing untuk terciptanya generasi emas Indonesia.